Kamis, 12 Juni 2008

SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM)

Setiap perusahaan pasti memiliki ketergantungan dengan pihak lain. Upaya perusahaanlah untuk menggalang kerjasama dengan mitranya sehingga setiap bagian merasa menjadi bagian dalam mata rantai yang saling berhubungan.
Kesuksesan tidak mungkin diperoleh hanya oleh satu bagian mata rantai saja, tapi dimulai dari pemasok hingga bahan jadi sampai ketangan konsumen akhir.
Hal inilah yang banyak dibahas dalam konsep Supply Chain Management/Logistik Bisnis.

Pada dasarnya e-SCM merupakan suatu konsep manajemen dimana perusahaan berusaha memanfaatkan internet dan teknologinya untuk mengintegrasikan seluruh mitra kerja perusahaan, terutama yang berhubungan dengan sistem pemasokan bahan-bahan atau sumber daya-sumber daya yang dibutuhkan dalam proses produksi (sisi supply). e-SCM merupakan kebalikan dari e-CRM dimana pada e-SCM lebih menekankan pada sisi supplynya yaitu supplier dan distributor yang digunakan sedangkan pada e-CRM lebih menekankan sisi demandnya yaitu konsumen perusahaan.

Supply chain dapat didefinisikan pula sebagai sekumpulan aktifitas (dalam bentuk entitas/fasilitas) yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi barang mulai dari bahan baku paling awal dari alam sampai produk jadi pada konsumen akhir. Menyimak dari definisi ini, maka suatu supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkat bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir. Dengan definisi ini tidak jarang supply chain juga banyak diasosiasikan dengan suatu jaringan value adding activities. Sebenarnya tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan. Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut.

Supply chain ini juga merupakan jaringan atau jejaring dari berbagai organisasi yang saling berhubungan menekankan pada pola terpadu yang menyangkut proses aliran produk dari supplier, manufaktur, retailer hingga kepada konsumen akhir yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau penyaluran barang tersebut. Mekanisme komunikasi dan informasi antar berbagai komponen tersebut berlangsung transparan, terbuka dan berlangsung secara terus-menerus.

Sangat penting untuk dicatat bahwa dalam suatu supply chain terdapat tiga macam aliran utama, yaitu aliran produk, uang dan informasi. Pengelolaan dan sinkronisasi ketiga aliran inilah yang menjadi ruh dan jiwa dari supply chain management. Tetapi, sekarang ini supply chain tidak hanya melibatkan aliran barang dari hulu ke hilir tetapi juga melibatkan aliran barang sebaliknya yaitu dari konsumen kembali ke manufacturer, atau yang disebut dengan reverse supply chain. Aktivitas-aktivitas reverse supply chain meliputi: pengembalian produk cacat, services and maintenance, ataupun aktivitas daur ulang.

Macam-macam komponen Supply Chain (rantai suplai), yaitu :

1. Rantai Suplai Hulu/Upstream Supply Chain

Bagian hulu ini meliputi aktivitas dari suatu perusahaan manufaktur dengan para penyalurnya (yang mana dapat manufaktur, assembler, atau kedua-duanya) dan koneksi mereka kepada penyalur mereka (para penyalur second-trier). Hubungan para penyalur dapat diperluas kepada beberapa strata semua jalan dari asal material. Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.

2. Manajemen Internal Rantai Suplai/Internal Supply Chain Management

Bagian dari internal supply chain meliputi semua proses pemasukan barang ke gudang yang digunakan dalam mentransformasikan masukan dari para penyalur ke dalam keluaran perusahaan tersebut. Hal ini meluas dari waktu masukan masuk ke dalam perusahaan. Di dalam rantai suplai internal, perhatian yang utama adalah manajemen produksi, pabrikasi, dan pengendalian persediaan.

3. Segmen Rantai Suplai Hilir/Dwonstream Supply Chain Segment

Downstream (arah muara) supply chain meliputi semua aktivitas yang melibatkan pengiriman produk kepada pelanggan akhir. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.

Konsep e-Supply Chain Management yang baik, biasanya memiliki 5 (lima) buah komponen yang saling mendukung, yaitu masing-masing:

1. Supply Chain Replenishment – adalah proses yang berkaitan dengan bagaimana para pemasok saling bekerja sama untuk menyediakan produk-produk atau bahan-bahan yang dibutuhkan oleh perusahaan sedemikian rupa sehingga memenuhi target permintaan dan service level yang dicanangkan.

2. Collaborative Planning – adalah proses yang memfokuskan diri pada aktivitas perencanaan yang berkaitan dengan operasi, produksi, inventori, dan distribusi sehingga keseluruhan perusahaan yang bekerja-sama mengetahui obyektivitasnya masing-masing sehingga untuk mencegah adanya konflik yang dapat bermuara pada tidak tercapainya kebutuhan pelanggan.

3. Collaborative Product Development – adalah proses yang berkaitan dengan aktivitas penciptaan produk atau jasa yang membutuhkan kerja-sama antara berbagai mitra bisnis tersebut dengan perusahaan, sehingga kualitas produk dan/atau jasa dapat terpenuhi sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati.

4. E-Procurement – pada dasarnya adalah manifestasi baru dari proses pengadaan konvensional, dimana dalam aktivitas ini teknologi internet dan prinsip-prinsip e-business benar-benar diterapkan secara sungguh-sungguh.

5. E-Logistics – sama seperti e-Procurement, hanya saja proses ini berkaitan dengan aktivitas manajemen pergudangan dan transportasi.

Pada perancangan produk baru suatu perusahaan seharusnya juga mempertimbangkan aspek-aspek supply chain management selain masalah kemudahan untuk diproduksi, kelayakan jual, biaya, dan waktu pengembangan rancangan tersebut, aspek lingkungan. Rancangan produk yang mempertimbangkan supply chain management dinamakan design for SCM. Secara umum design for SCM mempertimbangkan hal-hal seperti:

  1. Kemudahan untuk menyimpan, mengirim, dan mengembalikan produk tersebut
  2. Fleksibilitas rancangan terhadap perubahan permintaan pelangan
  3. Modularity: banyaknya komponen atau modul yang sama yang bisa digunakan untuk membuat produk akhir yang berbeda
  4. Aspek lokalisasi: rancangan yang memperhatikan bisa tidaknya sebagian kegiatan perakitan akhir finalisasi) dilakukan di area pemasaran
  5. Reuseability dari rancangan

Daftat Pustaka :

http://baihaqi.wordpress.com/2006/12/16/supply-chain-supply-chain-management/

http://masterbiznet.com/pemasaran-bisnis/extraprise-value-network.html

http://masterbiznet.com/pemasaran-bisnis/e-supply-chain-management.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Supply_chain_management

http://www.bookoopedia.com/daftar-buku&cat_id=&prod_id=10093

e-CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT (e-CRM)

Konsep utama dari tim sales dan merketing adalah mencari prospek, consumer, membangun hubungan erat dan mempertahankan konsumen, dengan satu goal untuk meningkatkan penjualan. Tetapi saat ini, pelaku sales dan marketing menemukan dirinya pada satu masalah. Konsumen semakin banyak tuntutan yang berfokus pada pendekatan lebih pada marketing dan penjualan., tetapi keadaan ekonomi memaksakan pelaku bisnis untuk menekan biaya.

Dengan semakin majunya teknologi yang mutakhir dan lebih mengetahui lebih banyak akan proses bisnis sales dan marketing yang efisien akhirnya membuat kedua pelaku sales dan marketing untuk lebih baik dalam mengelola rencana dan eksekusinya. Kemudian, dan mungkin yang terpenting, kelebihan inilah yang membuat tim sales dan marketing dapat bertindak cepat untuk menjawab kenapa penjualan jatuh serta apa yang sudah dilakukannya untuk memperbaiki berbulan-bulan sebelum hasilnya terealisasi. Oleh karena itu, representative penjualan dapat lebih efektif men-utilisasi kesempatan penjualan dan menyelesaikan penjualan daripada sebelumnya. Hal tersebut bisa dilakukan melalui e-CRM.

e-CRM merupakan suatu konsep manajemen dimana perusahaan berusaha untuk memanfaatkan internet dan teknologinya untuk mengintegrasikan perusahaan dengan seluruh calon konsumen maupun pelanggannya (sisi demand). Dengan e-CRM dan konsep jaringan internet pada umumnya, dimana e-CRM lebih diarahkan dalam mencoba menjalin hubungan atau relasi yang interaktif antara perusahaan dan masing-masing individu pelanggannya. Tujuan akhirnya adalah untuk menjamin kepuasan dan loyalitas pelanggan.

CRM ini sendiri sejatinya merupakan suatu konsep di mana pelanggan bukan hanya perlu didapatkan, tetapi juga penting untuk dipertahankan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan long-term value bagi perusahaan tersebut. Dari sisi teknologinya sendiri, CRM adalah fase berikut (fase ketiga) setelah ERP (Enterprise Resource Planning) dalam evolusi dari enterprise application/corporate automation. Jika sistem ERP bersifat inward-facing, function-centric; CRM bersifat outward-facing, entity-centric.

Keberhasilan penerapan perangkat CRM (Customer Relationship Management ) sangat ditentukan oleh faktor budaya. CRM dalam lingkup perusahaan maupun pemerintahan pada prinsipnya merupakan piranti yang digunakan untuk mendorong dan memperkuat proses penjualan dan pelayanan pelanggan. Namun, jika faktor budaya tidak selaras maka penerapan CRM tidak bisa optimal. Pentingnya memperhatikan lima dimensi dalam teori kebudayaan yaitu orientasi sosial, kekuasaan, ketidakpastian, sasaran dan orientasi waktu, dari Geert Hofstede sangat mempengaruhi perilaku bisnis dan digunakan untuk menyelaraskan penggunaan CRM dengan budaya.

Dalam situasi genting sekalipun, proses bisnis harus bisa di running dengan baik, begitupun pelayanan prima terhadap konsumen harus bisa dijalankan. Modul-modul dalam CRM sangat berguna untuk proses bisnis dan memelihara loyalitas pelanggan serta bisa menarik pelanggan baru secara progresif.

Pelanggan memiliki kecenderungan untuk tidak sekedar transaksional, tetapi juga menginginkan hubungan dua arah secara mudah. Kecenderungan lain yang melahirkan CRM adalah majunya teknologi manajemen data yang memungkinkan disimpannya jutaan data dalam satu sistem tunggal. Dulu, informasi tentang pelanggan akan disimpan dalam puluhan sistem yang berbeda dan belum ada teknologi yang mampu mengelola informasi kompleks tentang pelanggan. Data yang ada bisa dari yellow page telepon, email, faksimili, catatan tangan staf sales dan marketing, kartu nama, dalain-lain. Beberapa penyedia software CRM seperti Siebel Systems (teloah diakuisisi Oracle), Clarify (Nortel Networks), PeopleSoft dan Oracle telah menjadi market leader.

Sesuai dengan kondisi aktual bisnis proses di Indonesia, dibutuhkan modul-modul CRM yang harganya murah dengan menggunakan teknologi yang open platform dan open standards. Karena sifatnya yang open standards maka aplikasi CRM tidak akan vendor lock-in. Sejumlah pengembang aplikasi di tanah air memprioritaskan pengembangan subsistem CRM yaitu Account Management System atau Sales Force Autiomation atau e-BizSales. Merupakan aplikasi buatan dalam negeri yang mampu mengadopsi secara tepat teori Signature Selling Method yang mampu mengelola dan menyajikan segala sesuatu yang terkait dengan informasi pelanggan dan penjualan secara on-line, dan mentrasformasikan informasi kualitatif penjualan secara elegan kedalam data kuantitatif, sehingga lebih mudah dipahami oleh pimpinan penjualan. Sangat berguna untuk meningkatkan sales dan keuntungan perusahaan serta customer value dengan mengutamakan pelanggan utama.

Dalam Sistem Informasi Customer Relationship Management Berbasis Web (e-CRM) terdapat beberapa modul, yaitu : merupakan bagian dari solusi ARTISA. e-CRM ini terintegrasi dengan paket aplikasi lainnya yaitu e-EPM.

a. Modul Penjualan

Berfungsi untuk mengelola data penjualan yang meliputi :

· Reallisasi kunjungan

· Selling process

· Perolehan kontrak

b. Modul Laporan

Berfungsi untuk mengelola data laporan, meliputi :

· Laporan bulanan

· Laporan triwulanan

· Laporan semesteran

· Laporan tahunan

c. Modul Post-Penjualan

Berfungsi untuk mengelola data Post-Penjualan, meliputi :

· Complaint Handling

· Monitoring Piutang

· Status Order

· Customer Services

d. Modul Pra-Penjualan

Berfungsi untuk mengelola data Pra-Penjualan, meliputi :

· Data pelanggan

· Anggaran prospecting

· Rencana kunjungan

· Anggaran biaya

· Portofolio

Daftar Pustaka :

http://cache.search.yahoo-ht2.akadns.net/search/cache

www.kabprobolinggo.go.id/images/crm.pdf

http://masterbiznet.com/pemasaran-bisnis/extraprise-value-network.html

www.penamatics.co.id

markplusnco@yahoo.com